Guntur Romli PDIP desak RI keluar dari BoP seusai 2 WNI diculik Israel: Di mana nurani pemerintah?

Guntur Romli PDIP desak RI keluar dari BoP seusai 2 WNI diculik Israel

Rabu | 20 Mei 2026

Politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Mohamad Guntur Romli, melontarkan kritik keras terhadap sikap pemerintah Indonesia menyusul penangkapan sejumlah warga negara Indonesia oleh pasukan Israel dalam misi kemanusiaan menuju Palestina.

Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, Selasa (19/5/2026), pria yang akrab disapa Gun Romli itu mempertanyakan ketegasan pemerintah dalam melindungi warga negaranya yang berada di wilayah konflik, khususnya mereka yang menjalankan misi kemanusiaan dan jurnalistik.

Menurut Gun Romli, pemerintah tidak boleh bersikap pasif terhadap tindakan yang dilakukan militer Israel terhadap para relawan sipil tersebut. Ia menilai, apa yang terjadi bukan sekadar insiden biasa di kawasan perang, melainkan bentuk pelanggaran serius terhadap prinsip-prinsip kemanusiaan internasional.

“Di mana nurani pemerintah? WNI ditangkap saat membawa bantuan kemanusiaan dan menjalankan tugas jurnalistik, tetapi respons pemerintah terlihat sangat lemah,” tulisnya dalam unggahan tersebut.

Gun Romli juga mendesak pemerintah Indonesia untuk keluar dari Board of Peace (BoP), sebuah forum internasional yang disebut-sebut merupakan inisiatif Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Menurutnya, keberadaan Indonesia dalam forum tersebut sudah tidak lagi sejalan dengan komitmen moral dan politik luar negeri Indonesia yang selama ini mendukung perjuangan rakyat Palestina.

Ia menilai, Indonesia seharusnya mengambil posisi yang lebih tegas dan konsisten terhadap segala bentuk tindakan yang dianggap melanggar hak asasi manusia di Palestina. Baginya, keterlibatan Indonesia dalam forum internasional yang dianggap tidak berpihak pada keadilan bagi Palestina justru dapat melukai solidaritas publik Indonesia terhadap rakyat Gaza.

Dalam pernyataannya, Gun Romli mengungkapkan bahwa terdapat sembilan warga negara Indonesia yang ditangkap oleh pasukan Israel. Mereka terdiri dari dua jurnalis dan tujuh relawan kemanusiaan yang tergabung dalam armada kapal Global Sumud Flotilla.

Armada tersebut diketahui tengah membawa bantuan kemanusiaan berupa obat-obatan dan kebutuhan medis untuk warga Palestina yang terdampak konflik berkepanjangan di Gaza. Para relawan disebut berlayar sebagai bagian dari misi sipil internasional yang bertujuan menyalurkan bantuan sekaligus menarik perhatian dunia terhadap kondisi kemanusiaan di wilayah tersebut.

Gun Romli menegaskan bahwa para relawan dan jurnalis tersebut tidak membawa senjata maupun perlengkapan militer apa pun. Karena itu, ia menilai tindakan penangkapan oleh tentara Israel tidak dapat dibenarkan.

“Kalau mereka relawan sipil dan jurnalis yang membawa bantuan obat-obatan, lalu ditangkap oleh militer bersenjata, itu bukan tindakan keamanan biasa. Itu bentuk intimidasi dan dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang,” ujarnya.

Ia pun meminta pemerintah Indonesia, khususnya Kementerian Luar Negeri, bergerak lebih aktif untuk memastikan keselamatan para WNI tersebut dan segera melakukan langkah diplomatik guna membebaskan mereka.

Pernyataan Gun Romli langsung memicu perhatian publik di media sosial. Sejumlah warganet mendukung desakannya agar pemerintah mengambil sikap lebih tegas terhadap Israel, sementara sebagian lainnya meminta pemerintah berhati-hati dalam mengambil keputusan diplomatik yang berkaitan dengan forum internasional.

Hingga kini, belum ada keterangan resmi lebih lanjut mengenai kondisi sembilan WNI yang ditangkap maupun perkembangan upaya diplomatik yang dilakukan pemerintah Indonesia terkait insiden tersebut.

Scroll to Top
Scroll to Top