Rabu | 23 September 2026
Jakarta — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim hujan 2026/2027 di Indonesia akan datang secara bertahap, dengan sebagian besar wilayah mulai memasuki musim hujan pada November dan Desember 2026. Sementara itu, puncak musim hujan diperkirakan berlangsung pada Desember 2026 hingga Februari 2027, meskipun waktunya berbeda-beda antarwilayah.
Prediksi tersebut disampaikan BMKG dalam konferensi pers mengenai prediksi musim hujan pada Selasa (22/9). BMKG juga mengingatkan masyarakat agar mewaspadai perubahan pola hujan karena musim hujan tahun ini diperkirakan datang lebih lambat dan berlangsung lebih singkat dibandingkan kondisi normal di banyak wilayah.
Menurut BMKG, sebanyak 529 Zona Musim (ZOM), atau sekitar 61,08 persen wilayah Indonesia, diperkirakan mengalami awal musim hujan yang lebih lambat dibandingkan rata-rata klimatologisnya. Kondisi tersebut berkaitan dengan pengaruh El Niño dengan intensitas sangat kuat serta fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) yang berdampak terhadap berkurangnya curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan menjelaskan bahwa awal musim hujan di Indonesia tidak terjadi secara serentak. Sebagian besar wilayah diperkirakan baru memasuki musim hujan pada November 2026, yakni sebanyak 185 ZOM, sementara 266 ZOM diprediksi mulai mengalami musim hujan pada Desember 2026.
Wilayah yang mulai mengalami musim hujan pada November antara lain sebagian Sumatera, sebagian Jawa, sebagian Kalimantan, sebagian Bali, sebagian Nusa Tenggara Barat (NTB), sebagian kecil Nusa Tenggara Timur (NTT), sebagian Sulawesi, sebagian Maluku Utara, sebagian Maluku, Papua Barat bagian utara, serta sebagian Papua Selatan.
Sementara itu, wilayah yang baru memasuki musim hujan pada Desember mencakup sebagian Lampung, sebagian besar Jawa, sebagian Kalimantan Selatan, sebagian besar Bali, sebagian besar NTB, sebagian besar NTT, sebagian besar Sulawesi, sebagian Maluku Utara, sebagian Maluku, dan Papua Selatan bagian selatan.
Musim Hujan Diperkirakan Lebih Singkat
BMKG juga memperkirakan durasi musim hujan 2026/2027 di banyak wilayah akan lebih pendek dibandingkan kondisi normal. Sebanyak 482 ZOM atau sekitar 51,90 persen luas daratan Indonesia diprediksi mengalami musim hujan yang lebih pendek dari biasanya. Sebaliknya, 60 ZOM atau 8,58 persen luas daratan diperkirakan mengalami musim hujan lebih panjang, sementara 40 ZOM atau 5,06 persen diprediksi memiliki durasi yang relatif sama dengan normal.
Meski lebih singkat, BMKG tidak memperkirakan seluruh Indonesia akan mengalami kondisi hujan yang lebih kering. Sifat musim hujan diprediksi berada pada kategori normal di 510 ZOM atau 69,76 persen luas daratan Indonesia. Sebanyak 147 ZOM atau 18,55 persen diperkirakan mengalami kondisi lebih basah dari normal, sedangkan 42 ZOM atau 11,69 persen diprediksi berada pada kategori bawah normal atau lebih kering.
Dengan demikian, masyarakat tetap perlu memperhatikan bahwa musim hujan yang relatif singkat tidak berarti risiko hujan ekstrem menjadi hilang. Hujan dapat turun dalam periode yang lebih pendek tetapi dengan intensitas tinggi dalam waktu tertentu.
Puncak Musim Hujan Desember 2026 hingga Februari 2027
Sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi mengalami puncak musim hujan dalam tiga periode utama, yaitu Desember 2026, Januari 2027, dan Februari 2027.
Pada Desember 2026, puncak musim hujan diperkirakan terjadi di 155 ZOM atau sekitar 36,94 persen luas daratan Indonesia. Wilayah yang masuk dalam periode ini antara lain sebagian besar Sumatera, sebagian besar Kalimantan, sebagian Sulawesi Utara, pesisir selatan Gorontalo, sebagian kecil Sulawesi Tengah, sebagian besar Sulawesi Barat, sebagian kecil Maluku, Papua Barat Daya bagian barat, sebagian kecil Papua Barat, Papua bagian utara, Papua Tengah bagian timur, serta Papua Selatan bagian barat.
Pada Januari 2027, puncak musim hujan diprediksi terjadi di 162 ZOM atau sekitar 25,68 persen luas daratan Indonesia. Wilayah tersebut meliputi Riau bagian selatan, Kepulauan Riau bagian tengah, sebagian kecil Jambi, Bengkulu bagian utara, Kepulauan Bangka Belitung, Sumatera Selatan bagian barat, Lampung bagian utara, sebagian Jawa, Bali bagian tengah, NTB bagian barat, sebagian NTT, sebagian Kalimantan Barat, sebagian besar Kalimantan Tengah, sebagian kecil Kalimantan Timur, sebagian Kalimantan Selatan, sebagian Sulawesi, sebagian kecil Maluku Utara, Maluku bagian barat, serta sebagian Pulau Papua.
Sementara itu, pada Februari 2027, puncak musim hujan diperkirakan terjadi di 190 ZOM atau sekitar 16,79 persen luas daratan Indonesia. Wilayah yang diperkirakan mengalami puncak pada bulan ini mencakup Lampung bagian tengah, sebagian besar Jawa, sebagian besar Bali, sebagian NTB, sebagian besar NTT, Sulawesi Barat bagian selatan, sebagian Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara bagian selatan, sebagian Maluku, serta sebagian besar Pulau Papua.
Perbedaan waktu puncak tersebut menunjukkan bahwa pola musim hujan Indonesia sangat beragam. Wilayah yang berada di bagian barat dan utara Indonesia cenderung mencapai puncak lebih awal, sementara sejumlah wilayah di Jawa, Bali, Nusa Tenggara dan Papua dapat mengalami puncak pada Januari hingga Februari.
Pengaruh El Niño Sangat Kuat
Salah satu faktor penting yang menjadi perhatian BMKG adalah fenomena El Niño yang saat ini berada pada intensitas sangat kuat. BMKG mencatat anomali suhu muka laut di wilayah Nino3.4 pada akhir Agustus 2026 mencapai +2,83, sementara indeks ENSO periode Juli-Agustus-September mencapai +2,63. Kondisi tersebut menunjukkan penguatan El Niño.
Pada saat yang sama, indeks IOD pada Agustus tercatat +0,376 dan BMKG memperkirakan fase positif IOD masih berpeluang bertahan hingga akhir tahun. Kombinasi kedua fenomena tersebut berkontribusi terhadap kondisi atmosfer yang lebih kering dan mundurnya awal musim hujan di banyak wilayah Indonesia.
Kondisi kering tersebut juga masih terlihat pada September. Dalam analisis terbarunya, BMKG mencatat sekitar 80,7 persen wilayah Indonesia atau 564 ZOM masih mengalami musim kemarau pada Dasarian I September 2026.
BMKG juga masih memantau dampak kondisi atmosfer yang relatif kering, termasuk potensi kebakaran hutan dan lahan. Pada periode 22–28 September, sejumlah wilayah masih berpotensi mengalami hujan sedang hingga lebat meskipun sebagian besar wilayah lainnya masih didominasi kondisi cerah berawan hingga hujan ringan.
Waspada Banjir dan Longsor
Memasuki musim hujan, BMKG mengingatkan masyarakat untuk tidak hanya memperhatikan waktu datangnya hujan, tetapi juga intensitas dan dampaknya. Lonjakan curah hujan dalam waktu singkat dapat meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi seperti banjir, banjir bandang, tanah longsor, pohon tumbang, serta gangguan terhadap transportasi dan aktivitas masyarakat.
Wilayah yang secara historis memiliki tingkat kerawanan bencana hidrometeorologi pada musim hujan perlu meningkatkan kewaspadaan, termasuk sejumlah wilayah di Jawa, Sumatera, Sulawesi, Maluku, dan Papua.
Kesiapan infrastruktur menjadi salah satu faktor penting. Pemerintah daerah dan masyarakat diimbau memastikan saluran drainase tidak tersumbat, membersihkan sungai dan selokan dari sampah, memeriksa kondisi tanggul serta melakukan pemangkasan pohon yang berpotensi tumbang ketika diterpa angin kencang.
Selain itu, masyarakat yang tinggal di daerah perbukitan dan lereng juga perlu memperhatikan tanda-tanda awal longsor, terutama ketika hujan berlangsung terus-menerus. Retakan baru pada tanah, perubahan kemiringan pohon atau tiang, serta munculnya rembesan air di lereng dapat menjadi tanda yang perlu segera dilaporkan kepada pihak berwenang.
Kesiapsiagaan Menghadapi Musim Hujan
BMKG mengimbau masyarakat dan pemerintah daerah untuk menggunakan informasi cuaca dan iklim sebagai dasar dalam melakukan mitigasi. Persiapan tidak hanya diperlukan ketika hujan telah turun, tetapi sebaiknya dilakukan sejak sebelum memasuki periode puncak musim hujan.
Optimalisasi sistem drainase, pembersihan saluran air, kesiapan tempat evakuasi, serta pemetaan wilayah rawan banjir dan longsor menjadi langkah penting untuk mengurangi dampak bencana.
Bagi masyarakat, kewaspadaan juga diperlukan dalam melakukan perjalanan. Hujan deras dapat menyebabkan jarak pandang berkurang, genangan di jalan, pohon tumbang, hingga gangguan pada transportasi darat. Di wilayah pesisir dan perairan, kondisi cuaca juga perlu dipantau karena hujan lebat dan angin kencang dapat memengaruhi keselamatan pelayaran.
BMKG menekankan bahwa prediksi musim merupakan gambaran berskala luas dan kondisi cuaca sehari-hari dapat berubah dengan cepat. Karena itu, masyarakat disarankan terus mengikuti informasi dan peringatan dini BMKG ketika memasuki periode musim hujan.
Dengan musim hujan 2026/2027 yang diperkirakan datang lebih lambat dan berlangsung lebih singkat di banyak wilayah, kesiapan sejak dini menjadi penting. Desember 2026 hingga Februari 2027 diperkirakan menjadi periode utama puncak musim hujan, tetapi waktu puncaknya akan berbeda antara satu wilayah dengan wilayah lainnya.


