Selasa | 2 Desember 2025
Kabupaten Aceh Timur berada di ambang kehancuran setelah dilanda banjir besar disertai tanah longsor yang melumpuhkan hampir seluruh sendi kehidupan masyarakat. Pelayanan publik berhenti total, pasokan listrik terputus, jaringan komunikasi mati, serta akses transportasi lumpuh sehingga distribusi bantuan dan logistik sama sekali tidak dapat dilakukan. Dalam kondisi demikian, Pemerintah Kabupaten Aceh Timur praktis kehilangan kemampuan untuk menjalankan fungsi koordinasi penanganan darurat.
Kondisi benar-benar baru terkonfirmasi pada Sabtu (29/11/2025) setelah Pemkab Aceh Timur menyewa perangkat internet satelit Starlink untuk memulihkan komunikasi yang terputus selama beberapa hari. Bupati Aceh Timur, Iskandar Usman Al-Farlaky, menyebut wilayahnya berada dalam kondisi “nyaris kolaps” dan menegaskan bahwa sepanjang masa kepemimpinannya, belum pernah terjadi bencana separah ini.
Dalam sebuah video rapat darurat bersama Forum Koordinasi Pimpinan Kabupaten (Forkopimkab) yang beredar luas, suasana mencekam tampak jelas. Dengan mata berkaca-kaca, Al-Farlaky beberapa kali mengusap air mata saat memohon pertolongan secara langsung kepada Presiden RI, Prabowo Subianto.
“Kita harus terus bergerak meski dengan segala keterbatasan yang ada. Kita harus bergerak,” katanya dengan suara bergetar.
Saat berhasil menghubungi wartawan Serambinews.com di Banda Aceh, Al-Farlaky menegaskan bahwa kondisi Aceh Timur saat ini benar-benar lumpuh total. Seluruh 24 kecamatan terdampak banjir, dengan sebagian wilayah mengalami kerusakan ekstrem pada permukiman, fasilitas umum, dan infrastruktur vital.
Tiga Desa Diduga Hilang Dihantam Banjir Bandang
Bupati menjelaskan bahwa Kecamatan Simpang Jernih dan Serbajadi menjadi wilayah dengan dampak paling parah. Banjir bandang yang datang secara tiba-tiba menerjang permukiman warga, merusak jembatan, sekolah, serta fasilitas umum lainnya.
“Di Kecamatan Serbajadi kita mendapat kabar ada tiga desa yang hilang dihantam banjir bandang,” ungkapnya. Namun hingga kini informasi tersebut belum dapat diverifikasi secara pasti karena seluruh akses transportasi dan komunikasi ke wilayah tersebut terputus, termasuk sejumlah ruas jalan yang tertimbun longsor.
Al-Farlaky mengaku, kondisi yang ia lihat di lapangan mengingatkannya pada tragedi tsunami Aceh 2004, yang juga ia alami secara langsung sebagai penyintas.
“Persis seperti bencana tsunami dulu. Jalan-jalan rusak parah, aspal terkelupas, arus air kencang dan berputar, sangat membahayakan keselamatan,” ujarnya.
Akses Nasional Lumpuh, Logistik Menipis
Akses jalan nasional Banda Aceh–Medan hingga kini tidak dapat dilalui dari kedua arah. Putusnya jalur vital tersebut membuat bantuan dari luar daerah sama sekali belum bisa masuk ke Aceh Timur. Di saat bersamaan, persediaan bahan makanan, air bersih, dan kebutuhan pokok warga semakin menipis.
Dalam kondisi darurat itu, Al-Farlaky mengaku terpaksa menggunakan dana pribadi untuk membantu masyarakat yang terjebak di titik-titik banjir.
“Bantuan belum ada satu pun, baik dari pusat maupun provinsi, karena akses jalan tidak bisa ditembus,” jelasnya. Ia hanya bisa berharap bantuan logistik yang diangkut kapal perang melalui Pelabuhan Belawan dapat segera tiba.
Dengan nada penuh kekhawatiran, ia memperingatkan bahwa krisis kemanusiaan dalam waktu dekat bisa memburuk.
“Apabila sampai dua hari belum ada bantuan yang masuk ke Aceh Timur, diyakini akan ada masyarakat yang meninggal kelaparan,” ucapnya.
Rumah Sakit Lumpuh, Korban Jiwa Diperkirakan Puluhan Orang
Tak hanya sektor logistik, fasilitas kesehatan juga berada dalam kondisi kritis. Rumah sakit dan puskesmas di sejumlah wilayah tidak dapat beroperasi normal akibat terendam banjir, alat-alat medis rusak, dan tenaga kesehatan kesulitan bergerak karena akses jalan terputus.
“Rumah sakit tidak berfungsi, alat medis rusak, tenaga medis sulit bergerak. Jadi jangan dianggap bencana di Aceh Timur ini sepele,” tegas Al-Farlaky.
Saat ditanya mengenai jumlah korban jiwa, ia memperkirakan angkanya sudah mencapai puluhan orang. Namun hingga kini belum ada data resmi karena minimnya koneksi dan keterbatasan pelaporan dari daerah yang terisolasi.
“Saya baru bisa berkomunikasi sejak Sabtu setelah kita pasang Starlink. Kita sewa 10 juta selama 10 hari,” tuturnya.
Memohon Bantuan Nasional
Dalam kondisi serba terbatas, Al-Farlaky kembali memohon kepada pemerintah pusat agar segera mengirim bantuan logistik, alat berat untuk membuka akses jalan, serta tambahan personel evakuasi.
“Kita mohon bantu kami. Sekarang kami berjuang sendiri, dibantu TNI dan Polri lokal,” katanya dengan suara penuh keputusasaan.
Saat ini, ribuan warga terpaksa mengungsi di tempat-tempat darurat dengan kondisi minim fasilitas. Banyak keluarga kehilangan rumah, harta benda, bahkan anggota keluarganya. Aceh Timur pun kini berada di titik paling genting sejak bencana besar melanda wilayah tersebut, menanti uluran tangan bantuan dari luar daerah sebelum situasi berubah menjadi krisis kemanusiaan yang lebih luas.


